Selasa, 27 Oktober 2015

Unforgettable Experience



Berawal dari rapat pembentukan panitia Pentas Parade Drama, kisah ini dimulai. Di sebuah organisasi teater, aku adalah anggota dari sie kreativitas & produktivitas. Anggota dari sie ini dianjurkan untuk menjadi pimpro (pimpinan produksi) di setiap kegiatan, terutama dalam program kerja di teater kami yaitu pentas parade dan pentas tunggal. Pentas parade adalah pentas yang menampilkan lebih dari satu drama pendek dengan durasi 15 sampai 20 menit. Sedangkan pentas tunggal sesuai dengan namanya “tunggal” yang berarti satu. Pentas tunggal hanya menampilkan satu drama tapi durasinya lama, yaitu satu sampai 2 jam. Tidak hanya anggota sie kreativitas dan produktivitas saja yang boleh menjadi pimpro, anggota dari sie lain juga diperbolehkan.
Dimulailah rapat pembentukan panitia. Yang pertama dicari adalah pimpro. Pimpro akan memimpin jalannya rapat yang akan diadakan selanjutnya selama proses produksi drama dibuat. Semua mata tertuju pada anggota sie kreativitas dan produktivitas. Jumlah anggota sie kreativitas dan produktivitas hanya tiga orang. Satu orang sudah pernah menjadi pimpro, yaitu koordinator sie ini. Jadi, tinggal dua orang yang belum menjadi pimpro yaitu aku dan seorang temanku. Dari anggota lain tidak ada yang mau angkat tangan untuk menjadi pimpro. Akhirnya, aku angkat tangan. Karena sebelumnya ada salah satu dari alumni anggota teater yang bilang,
”Mana ini anggota sie kreativitas dan produktivitas? Takut ya jadi pimpro? Nggak berani? Atau anggotanya nggak ikut rapat?”
Oleh karena itu, berani nggak berani aku harus mau jadi pimpro. Akhirnya kakak alumni itu tersenyum dan bilang, “semangat ya, hebat, jangan takut”. Aku hanya tersenyum sambil menahan suara jantungku yang berdetak kencang, jantungku berdebar-debar karena ada rasa takut dan tidak percaya diri. Pembentukan panitia selesai, pimpro (aku) maju ke depan mengambil alih pimpinan. Aku berjalan perlahan dengan jantung yang berdetak kencang. Kali pertama menjadi ketua rapat, aku dibantu ketua umum untuk menjelaskan tugas-tugas panitia. Misalnya, sie acara bertugas membuat konsep acara pentas parade, sie konsumsi bertugas menyiapkan segala keperluan konsumsi selama proses latihan dan terutama pada hari dilaksanakannya pentas, dan ketua umum juga menjelaskan tugas-tugas panitia yang lain sesuai dengan ketentuan. Aku hanya mendengarkan dan mencoba memahami karena aku belum mengerti sama sekali bagaimana kegiatan selanjutnya setelah panitia terbentuk. Rapat selesai, ditutup dengan ucapan hamdalah dan seperti biasanya seluruh anggota mengucapkan moto kami, ”Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. (W.S. Rendra).” Moto ini selalu kami ucapkan setelah selesai latihan maupun rapat sambil menggenggam tangan antara satu dengan yang lainnya untuk mengukuhkan tali persaudaraan yang telah terikat di dalam kebersamaan anggota teater dan menyalurkan energi semangat.
            Waktu demi waktu kulalui, aku masih benar-benar bingung tentang apa yang harus kulakukan. Setiap pergi ke sanggar (basecamp organisasi teater), aku mencari tahu dengan bertanya kepada alumni, kakak-kakak yang lebih dulu ikut teater, ketua umum, dan membuka file-file lama di komputer. Ketika bertemu dengan alumni yang kadang-kadang masih mampir di sanggar, mereka memberikan semangat dan nasihat padaku. Ada yang bilang, jadi pimpro jangan sampai lupa makan dan jaga kesehatan karena pasti akan banyak pikiran. Ucapannya semakin membuatku berdebar, tapi sebisa mungkin aku akan berusaha melaksanakan tugas sebagai pimpro. Kumulai dengan membuat target mengenai pembuatan proposal, perkiraan proposal di acc oleh lembaga, target semua agenda rapat selanjutnya, konsep kegiatan, dll. Semua itu terkadang membuatku pusing meskipun sudah dibantu oleh ketua umum. Sampai tugas kuliah kukerjakan ala kadarnya, tidak maksimal sama sekali. Mengorbankan waktu dan tugas kuliah tidak membuat pusingku hilang dan aku masih belum putus asa untuk melanjutkan agenda-agenda menuju pentas parade. Dihadapan orang lain, khususnya teman-temanku aku tidak menunjukkan betapa pusingnya saat itu. Yang kutunjukkan adalah senyum dan seolah semangat berjuang tanpa pantang menyerah.
            Latihan rutin dimulai, kelompok dibagi menjadi lima. Harapan kami, pentas ini akan menampilkan lima drama. Satu kelompok terdiri dari lima sampai enam orang (dua sutradara dan tiga sampai empat anggota). Kami berkumpul bersama kelompok masing-masing untuk bedah naskah. Bedah naskah merupakan kegiatan awal untuk mengetahui keseluruhan isi dan maksud dari naskah itu sendiri. Kemungkinan tidak terlalu sulit untuk membedah karena yang membuat naskah adalah pelatih kami. Biasanya naskah dibuat sesuai dengan latar belakang dan kehidupan sehari-hari. Bila kami masih bingung atau kesulitan dalam mencari maksud naskah itu, kami bisa bertanya langsung pada nara sumbernya. Awal dari proses ini, aku dan anggota kelompok berjanji dalam hati masing-masing untuk bersama-sama memainkan naskah ini sampai hari dimana pentas tiba. Kami berpegang tangan, mengukuhkan hati, dan berdo’a supaya prosesnya lancar.
Hari pertama latihan hanya satu anggota yang datang. Jadi, kami hanya bertiga membaca naskah pendek ini. Hari kedua, semua masuk latihan. Hari ketiga, satu orang tidak latihan. Hari keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya seperti itu. Mereka tidak menepati janji. Kadang-kadang latihan, kadang-kadang tidak, dan semakin lama kami tinggal bertiga saja seperti hari pertama latihan. Tragedi ini ternyata juga terjadi di kelompok lain. Ada satu kelompok yang sebenarnya membutuhkan pemain lebih dari enam orang, tapi pemainnya tidak memiliki komitmen yang kuat untuk mementaskan naskah itu. Mereka selalu memiliki alasan untuk tidak latihan. Misalnya, banyak tugas, jadwal latihan bertepatan dengan waktu kerja, dll. Akhirnya, satu naskah dibatalkan. Kelompok menjadi empat. Sisa anggota dari kelompok yang gagal pentas dimasukkan ke dalam kelompok-kelompok lain. Hal itu sangat membantu jalannya proses latihan. Ada yang double casting, yaitu berperan ganda dalam dua naskah untuk saling membantu dan menutupi kekurangan pemain.
Perdebatan, gesekan, kesalahpahaman, dan ketegangan selalu terjadi. Aku selalu berusaha bersikap tenang dalam kondisi seperti apapun juga. Meskipun pernah sewaktu ketika satu ucapan membuatku terasa jatuh dalam lubang yang dalam. Dia berkata, “awas kau sampai di pentas masih cengengesan, kulempar sandal dari tempat penonton.” Sesekali aku bersikap seperti itu sebenarnya hanya untuk hiburan semata, tidak berniat cengengesan seperti yang dia bilang. Kesalahan kecil bisa berdampak besar bila orang lain memiliki penilaian berbeda. Hatiku terasa tertusuk pisau yang begitu tajam. Selain kata-kata itu, produksi juga tidak berjalan lancar. Itu karena masing-masing panitia tidak berkomunikasi baik dengan panitia lain. Seharusnya, komunikasi harus sering dilakukan supaya produksi tidak memberatkan salah satu pihak. Komunikasi juga bisa mempermudah untuk saling berbagi kesulitan, saling membantu, dan akhirnya tidak saling menyalahkan karena panitia tidak bekerja sesuai tugasnya. Sempat aku berpikir, mungkin ini kesalahanku juga karena aku hanya memberikan semangat melalui sms tanpa merangkul mereka untuk mengerjakan tugas sesuai dengan porsinya. Akhirnya, aku sendiri yang kerepotan. Ketua umum pun sudah lelah memberitahuku, bahwa tugas pimpro itu mengawasi dan mengingatkan kerja dari panitia, tidak perlu terjun langsung ke lapangan. Kalaupun ikut terjun ke lapangan tidak usah ngoyo (kerja terlalu keras) karena pimpro dan ketua umum yang nanti bertanggung jawab atas kerja panitia. Namun, aku tetap turun ke lapangan, pulang ke kost selalu sore. Pagi kuliah, pulang kuliah mengurus produksi, dan malam latihan. Terasa remuk badan ini karena kurang istirahat. Ketua umum tidak peduli lagi padaku karena aku keras kepala seperti itu. Apalagi mengenai pembagian kelompok yang tersisa tadi. Awalnya, aku dan temanku yang menjadi sutradara menolak untuk menambah pemain. Kami mengira bahwa hanya berempat saja sudah cukup, tapi ternyata kami tinggal bertiga. Ketua umum semakin sebal denganku. Karena sikapku dan temanku seolah acuh dan tidak membutuhkan pemain tambahan. Aku merasa bersalah padanya. Dia sebal dan tidak memperdulikan aku lagi. Ketika bertemu, dia acuh, tidak menyapa sama sekali, dan cenderung mengabaikanku. Aku masih tak peduli dengan sikapnya, tapi temanku yang tahu permasalahan ini menasehatiku untuk mengalah dan minta maaf kepada ketua. Pertamanya terasa berat untuk minta maaf, tapi kuputuskan sms minta maaf untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan di organisasi teater dan menjaga kondisi supaya membaik. Ketua umum memaafkan aku. Dia tidak marah lagi dan mau membantuku melanjutkan proses produksi. Sebenarnya pasti dia kasihan padaku. Selain menjadi pimpro, aku juga menjadi sutradara dan pemain utama. Akan tetapi, aku belum menyadari hal itu.
Aku ingin merubah sikapku. Sikap yang cuek dan cenderung tidak peduli pada orang lain. Tapi di sisi lain, sikap inilah yang selama ini membantuku mengatasi segala masalah. Sikapku cuek, tapi diam-diam aku mencari solusi untuk menyelesaikan segala permaslahaku tanpa ada yang tahu dan sikap tidak peduli pada orang lain ini karena aku tidak suka ikut campur urusan pribadi orang lain. Kecuali dia datang sendiri padaku dan berbagi cerita, pasti aku akan mendengarkan dan mencoba mencari solusi bersama-sama.
Mendekati pentas, suasana semakin panas. Ada seorang anggota yang tidak ikut berproses setelah kelompoknya bubar, tapi mendekati pentas dia datang latihan dan ingin ikut pentas. Dia tidak mau jadi pemain musik, tapi ingin mendapatkan peran atau menjadi MC. Setelah diputuskan menjadi MC, dia tidak datang latihan lagi. Padahal sudah kuberi tahu, meskipun kelihatannya jadi MC itu mudah, tapi kalau tidak sering latihan akan jadi sulit. Dua minggu sebelum pentas, dia tidak datang latihan sama sekali. Aku memberitahunya, kalau dia serius ingin jadi MC, satu minggu penuh harus datang latihan. Berbagai alasan dilontarkannya, membuatku begitu marah tapi aku masih bisa menahan rasa marah ini. Dua hari sebelum pentas dia baru datang, yaitu ketika gladi resik. Gladi resik sangat kacau, MC tidak pernah latihan dan para pemain ada yang belum memakai kostum lengkap. Terasa seperti akan dieksekusi. Aku takut bila pentas ini gagal. Sebelum pentas, MC baru latihan dengan seorang kakak alumni yang kuminta untuk membantu. Kakak alumni itu mengeluh padaku, ”ini bagaimana sih dek, kok MC kayak gini? Apa nggak pernah latihan? Pentas sebentar lagi lho.” Aku benar-benar bingung. Seorang alumni saja mengeluhkan seperti itu, bagaimana aku menyikapinya. Apalagi, disini aku berperan banyak. Selain sebagai pimpro, aku berperan sebagai sutradara, pemain musik di naskah yang lain, dan pemain utama dalam naskah yang kusutradarai. Beban ini terasa berat jika kurasakan, tapi aku tetap berusaha supaya pentas ini berjalan lancar. Aku hampir menangis karena tidak sanggup harus melakukan apa. Akhirnya, MC ini tetap dilatih oleh kakak alumni dan mereka berdualah yang menjadi MC. Perasaanku sadikit lega karena persoalan MC sudah selesai.
Detik-detik menuju pentas pun membuat jantung semakin berdebar. Pukul 19.00 WIB kami membentuk lingkaran dan brdo’a. Kemudian, berteriak untuk melegakan perasaan. Kami menuju tempat masing-masing supaya tidak mennganggu keluar dan masuknya pemain di panggung. Pukul 19.30 WIB penonton sudah begitu banyak yang masuk di dalam gedung, pentas pun dimulai.
Pentas Parade Drama berjalan lancar, bisa dikatakan sukses. Apresiasi dari penonton begitu bagus dan memuaskan. Jumlah penonton juga melebihi target. Dari target 200 penonton, tapi yang menonton 300 orang lebih. Ini benar-benar membuatku tesenyum lebar dan merasa puas. Kerja keras dan pengorbanan selama proses tiga bulan tidak sia-sia begitu saja. Pentas ini juga merupakan hadiah terindah yang pernah kudapat karena malam pentas ini adalah malam pergantian umurku yang ke 20. Tepat tangga 19 Januari 2013 pentas usai, sedangkan 20 Januari adalah hari ulang tahunku. Aku benar-benar senang. Proses menuju pentas yang membuatku pusing dan hampir setiap hari tidak bisa tidur nyenyak, sekarang membuatku senang melebihi mendapat kado spesial seperti apapun.
Pelajaran yang dapat kupetik dari pengalaman ini adalah
·         Bila kamu terus berusaha pasti ada jalan.
·         Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, andaikan gagal pasti keberhasilan itu masih tertunda.
·         Kuatkan tali persudaraan dan jagalah komunikasi.
·         Pekerjaan yang berat akan menjadi lebih ringan jika dikerjakan bersama-sama.
·         Ikutlah merasakan sakit, bila kamu ingin merasakan senang.
·         Menjadi seorang ketua atau pemimpin harus bisa memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain.


Note: cerita ini sudah dibuat oleh penulis di laman web yang terdahulu, bila anda ingin melihat artikel yang lain klik here

Tidak ada komentar:

Posting Komentar